Sabtu, 12 Desember 2015

Ia

"Disini saja..." kata salah satu temannya.

Sore itu, rintik hujan kembali turun. Sore itu masih pukul empat, namun lampu penerang jalan sudah mulai dinyalakan. Dia mulai memandangi tempat itu. Rasanya, Ia pernah mengunjungi tempat itu sebelumnya. Kembali Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, mencoba mencari jawaban atas dugaannya.

"Jangan.... di sana saja dekat jendela. Pemandangannya bagus kalau langit sudah gelap." ujar temannya yang lain sambil menunjuk satu sisi dari tempat tersebut.

Dia langsung menoleh. Di sudut ruangan itu terdapat sebuah jendela besar. Hampir satu dinding penuh ditutupi oleh jendela transparant tersebut. Deg. Ia telah mengingat persisnya.
Lima orang temannya mengiyakan untuk duduk di tepi jendela itu. Dari jendela besar tersebut, terlihat kerlap-kerlip lampu jalanan dan gedung-gedung pencakar langit di luar sana. Lampu kendaraan yang sedang terjebak macet pun terlihat sangat cantik dari jendela lantai 10 ini.

Dia pun duduk dan pandangannya terpaku pada sebuah meja di seberang tempatnya. Meja itu tepatnya hanya untuk dua orang. Matanya masih terpaku dan kemudian Ia tersentak.

"Eh, lo mau pesen apa? Dari tadi gue perhatiin bengong aja..." kata seorang temannya sambil menyikutnya. Dia hanya tersenyum, lalu menunjuk satu menu dihadapannya. Ia tak bisa berpikir, kelihatannya. Pikirannya penuh dengan ingatan pada masa itu.

"Eh, gue izin bengong dulu ya. Bukan bengong mikirin hal yang aneh, bukan. Ada satu ingatan yang gue rasa perlu dimunculkan lagi, nih..." katanya sambil tersenyum mengejek. Lima orang temannya tergelak. Mana ada orang yang izin buat bengong dulu...

"Awas lu kesurupan nanti. Yaudah jangan lama-lama mikirnya. Kita juga perlu bicara sama lo, kangen tau.." ucap salah satu temannya yang lain. Dia kemudian tertawa dan kembali terpaku pada sebuah meja diseberangnya.

Meja itu sekarang kosong. Ia menyapukan pandangannya, banyak orang dan pasangan di tempat ini, namun tidak ada yang memilih untuk duduk di tempat itu. Dia tersenyum sekali lagi. Mungkin mereka takut hujannya akan menghasilkan petir, pikirnya.

Ia sudah bisa mengingat detail kenangannya. Pikirannya langsung melambung ke meja diseberangnya beberapa tahun yang lalu. 

Ia tengah memandangi sepasang mata diseberangnya yang tengah melihat jendela disebelahnya. Kemudian tiba-tiba saja sepasang mata tajam itu menengok dan mulai melihatnya. Hari itu, pukul delapan malam. Hujan masih saja turun dengan amat deras. Kilatan petir terlihat di awan sebelah utara. Ia masih mengingatnya.

Ia tahu perasaannya kala itu. 

Ia kemudian menundukkan pandangannya. Ia malu dan kemudian terdengar tawa kecil di seberangnya. Saat Ia kembali mendongakkan kepalanya, pria diseberangnya terlihat tengah bersandar di kursinya sambil melipat tangannya. Mata pria itu masih memandangnya dengan tatapan lucu. 

Kemudian suasana canggung itu mulai tercairkan. Makanan dan minuman yang sudah dipesannya, mulai datang. Ia menyesap segelas teh hangat nya perlahan. Pria itu juga sama, bedanya Ia menyesap secangkir cappucino yang masih mengebulkan asapnya. Perempuan itu bingung harus memulai dari mana, dan kemudian ia berkata, "jangan lupa berdoa sebelum makan". Ia tertawa ketika mengingatnya.

Dalam ingatannya, pria diseberangnya juga tertawa kecil sembari menganggukan kepalanya.

"apa kabar?" suaranya pelan, tapi berat, begitu Ia mengingatnya. Ia yang tengah mengunyah nasi hanya tersenyum dan berkata, "baik sekali, kamu?"

Pria itu tersenyum, "kalau kamu baik, aku juga sangat baik." Haha, Ia hampir tergelak mengingatnya. Gombalan level receh itu berhasil membuat dirinya senang pada malam itu. Kemudian yang ia ingat hanyalah obrolan kecil lainnya seperti menanyakan keluarga, kegiatan, dan sejenisnya.

Mungkin kalian bingung apa yang terjadi pada kedua manusia tersebut. Yang aku tahu, mereka masing-masing tidak terikat apa-apa, hanya memendam rasa yang sama. Tapi, itu hanya dugaanku.

Kembali lagi ke atas meja makan di suatu tempat di lantai 10 itu. Suasana mulai mencair. Terkadang, tawa tak lagi dapat dihindari. Makanan diatas meja sudah habis, jam pun mulai menunjukkan pukul sembilan. Namun tempat ini masih ramai pembeli. Dan mereka masih melanjutkan obrolannya.

Sang pria menceritakan kisahnya, dan si wanita sibuk mendengarkannya. Mereka memang telah terpaut jarak selama dua tahun ini. Sang pria di Yogyakarta, dan si wanita di Jakarta, maka tak aneh jika bertemu seperti ini, kisah yang diceritakan tak akan ada habisnya.

Mereka berdua kembali menyesap minumannya. Tiba-tiba suasana hening. Mulai canggung seperti awal bertemu. Lalu sang pria mendeham.

"Ehm... aku tau, kalau kamu sudah tau....." gantungnya.
"tunggu aku ya, sampai aku kembali lagi...." lanjutnya. Awalnya, Ia tak mengerti. Namun melihat senyum lawan bicaranya, ia mulai mengerti. Hatinya seperti lompat dari dalam tubuhnya. Kupu-kupu terasa beterbangan di perutnya. Ia mengangguk perlahan, tak kuasa menahan rona merah di pipinya.

Kemudian yang Ia ingat, dirinya pada masa itu kemudian diantar pulang oleh sang pria ke rumahnya. Waktu itu, hujan sudah mulai mereda sehingga tidak ada drama klasik hujan-hujanan dan dinaungi jaket oleh sang pria.

Ia mengingat jelasnya. Tanpa sadar, ingatannya justru menyakiti dirinya. Ia mengeluarkan air mata yang kemudian di hapusnya. Ia tidak mau teman-temannya melihat dirinya seperti ini.

"udah mikirnya?"ledek seorang teman. Ia tertawa dan mengangguk. Ternyata, meja diseberang sudah diisi oleh sepasang pria dan wanita. Ia mengalihkan pandangannya. Teman-teman yang lain tengah memakan hidangan yang telah dipesan. Ia lalu menyesap minumnya perlahan seraya mengambil sesuatu dari tasnya.

"Ini, buat kalian" katanya. Teman-teman yang lain langsung melihatnya dan terbelalak. Lima buah karton berwarna pastel dibagikannya.

"ini.... undangan? undangan nikah?" tanya seorang temannya. Ia hanya tersenyum, tak bisa berkata apa-apa.

"wah lo sama anak Jogja itu gerak cepat juga ya. Baru setaun pasca wisuda, udah ngundang aja" timpal temannya yang lain. Hatinya mulai terasa sakit. Air mata terasa hendak keluar dari matanya kembali. Teman-temannya langsung membuka undangan dan tersentak. 

"elo......"

"iya, gue dengan anak temennya orang tua gue.." Ia berkata seraya tersenyum tipis dan dengan air mata yang tidak sanggup lagi ditahannya. Teman-temannya langsung bangkit dari kursi dan merangkulnya. Yang ia tahu, ia mengeluarkan banyak air mata pada detik itu. 

Ia menghela nafas. 

"tau gitu, sejak awal gue nggak usah suka cowok ya, kalau akhirnya dijodohin gini...." lirihnya sambil tersenyum. Teman-temannya menyeka air matanya dan mulai tersenyum kepadanya.

Seorang teman mulai meluncurkan nasihat-nasihatnya. Ia mendengarnya dengan sesekali menghapus air mata yang masih menggenang. Pikirannya akan sang pria masih belum hilang seutuhnya. Sangat sulit untuk mengembalikan setengah hati yang telah diberikannya. Ia kembali menghela nafas.

"gue pulang duluan aja ya..." dan kemudian dirinya pamit. Teman-temannya mengerti dan menganggukan kepalanya. Ia pergi, melintasi lorong dan berjalan ke arah elevator. 

Ting.

Elevator terbuka.

Seorang pria dengan memakai blazer abu-abu tua keluar dari elevator.

Ia tanpa melihat kedepan, langsung memasuki elevator dan mendongakkan kepalanya.

Sang pria tanpa sadar menoleh dan bertemu pandang akan sang wanita yang juga melihatnya. Lalu, pintu elevator mulai tertutup.


XXX

Ps; saat hendak merangkum bahan UAS MPKT, tiba-tiba terlintas beberapa ide buat nulis yang cukup mengganggu. Akhirnya, terpaksa menutup laman word dan kemudian membuka blog. Untung wifinya lancar.
HAHAHAHAHA serius ini fiksi beneran, bukan cerita asli:( gamau dijodohin:( ((yha malah curhat))

3 komentar:

  1. Makanya de jangan trlalu suka ama cowok siapa tau ntar lu berakhir dijodohin... Ga buruk kok... Eh, gue juga ga mau sih dijodohin btw .__.

    BalasHapus
  2. Makanya de jangan trlalu suka ama cowok siapa tau ntar lu berakhir dijodohin... Ga buruk kok... Eh, gue juga ga mau sih dijodohin btw .__.

    BalasHapus
  3. WAAH ADA ANGGIA. fiksi sih nggi, nggak nyata itu wkwk

    BalasHapus